Minggu, 09 Oktober 2011

Charles Elton Sutherland

Charles Elton Sutherland adalah ahli biologi Inggris dan naturalis yang mendirikan prinsip-prinsip ekologi hewan modern. Studi hewan di lingkungan alam mereka membantu dia mengembangkan konsep rantai makanan, suksesi organisme, masing-masing tergantung pada berikutnya untuk makanan, dan niche ekologi, di mana setiap spesies menempati posisi yang unik dalam komunitas ekologi.Lahir di Manchester, Inggris, Elton dibesarkan di Liverpool. Kakaknya Geoffrey mengajarinya untuk menghargai alam melalui dekat, observasi hati-hati, inspirasi Elton untuk mempelajari biologi dan zoologi di Liverpool College dan kemudian di Universitas Oxford. Sementara belajar di Oxford, ia memiliki perbedaan yang menyertainya mentornya, biologi Inggris dan penulis Julian Huxley, pada empat ekspedisi ke Kutub Utara zoologi. Setelah lulus dari Oxford pada 1922 dengan gelar sarjana dalam ilmu alam, Elton terus belajar ekologi, fokus pada fluktuasi dalam ukuran populasi hewan. Dari tahun 1929 sampai 1945 dia memegang posisi penuh waktu penelitian di Universitas Oxford.Untuk mendapatkan wawasan tentang sejarah populasi hewan, Elton memeriksa catatan pemerangkap bulu dari Teluk Hudson Company, sebuah perusahaan Inggris yang dioperasikan monopoli bulu awal perdagangan di Kanada 1670-1859. Informasi diperoleh dari catatan-catatan sejarah tentang bulu-bantalan hewan memungkinkan dia untuk melacak fluktuasi populasi kembali lynx Kanada untuk 1736. Studi dari catatan-catatan arsip, ditambah dengan pengalamannya di Kutub Utara, dipimpin dia menulis Ekologi Hewan (1927) dan Ekologi Hewan dan Evolusi (1930). 
Kedua buku membantu membangun ekologi hewan sebagai sebuah disiplin baru dan berbeda. Pada tahun 1932 Elton mendirikan Jurnal Ekologi Hewan. Tahun yang sama ia mendirikan Biro Populasi Hewan, pusat penelitian pertama untuk studi populasi hewan dan ekologi, yang dengan cepat menjadi pusat riset kelas dunia sampai kematiannya pada awal 1960-an.Pada tahun 1953 Elton diakui sebagai Fellow oleh Royal Society of London. Kehormatan seumur hidup lain termasuk pemilihan American Academy of Arts dan Sciences, Medali Emas dari Linnean Society, dan Royal Society Medal Darwin. Elton juga penulis voles, Tikus, dan Lemmings (1942), Pengendalian Tikus dan Mencit dari (1954), The Ecology of Invasi Hewan dan Tanaman (1958), dan Pola Masyarakat Hewan (1966).

Sabtu, 01 Oktober 2011

PERANAN EKOLOGIS DAN SOSIAL EKONOMIS HUTAN MANGROVE DALAM MENDUKUNG PEMBANGUNAN WILAYAH PESISIR1

http://www.dephut.go.id/files/Chairil_Hendra.pdf

REVIEW
Menurut saya Penelitian yang dicetuskan oleh Chairil Anwar dan Hendra Gunawan termasuk dalam kategori sinekologi karena didalamnya terdapat Ekosistem hutan mangrove didaerah pesisir dan pengertian sinekologi itu sendiri adalah ekologi yang mempelajari kelompok organisme yang tergabung dalam satu kesatuan dan saling berinteraksi dalam daerah tertentu.

Dari ringkasan hasil penelitian Ekosistem hutan mangrove memiliki fungsi ekologis, ekonomis dan sosial yang penting dalam pembangunan, khususnya di wilayah pesisir. Meskipun demikian, kondisi hutan mangrove di Indonesia terus mengalami kerusakan dan pengurangan luas dengan kecepatan kerusakan mencapai 530.000 ha/tahun. Sementara laju penambahan luas areal rehabilitasi mangrove yang dapat terealisasi masih jauh lebih lambat dibandingkan dengan laju kerusakannyayaitu hanya sekitar 1.973 ha/tahun. Demikian juga kondisi hutan mangrove di Sumatera Barat hanya 4,7% yang baik, sementara 95,3% dalam keadaan rusak. Oleh karena itu, perlu dilakukan berbagai upaya untuk memulihkan kembali hutan mangrove yang rusak agar dapat kembali memberikan fungsinya bagi kesejahteraan manusia dan mendukung pembangunan wilayah pesisir. Peningkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang arti penting keberadaan mangrove dalam mendukung kehidupan perekonomian masyarakat pesisir perlu terus digalakkan. Pengikutsertaan masyarakat dalam
upaya rehabilitasi dan pengelolaan mangrove dapat menjadi kunci keberhasilan pelestarian mangrove. Upaya ini harus disertai dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, misalnya melalui kegiatan silvofishery, pemanenan (seperti: kayu, nira nipah, kepiting bakau, kerang bakau, dan lain-lain) secara lestari serta pengembangan wisata. Isu tsunami dapat menjadi pemicu untuk menggalakkan kembali rehabilitasi hutan mangrove yang rusak di pantai barat
Sumatera dalam rangka meredam efek merusak dari tsunami, mengingat pantai barat Sumatera merupakan jalur gempa yang berpotensi menimbulkan tsunami.


AUTEKOLOGI PURNAJIWA (Euchresta horsfieldii (Lesch.) Benn. (FABACEAE) DI SEBAGIAN KAWASAN HUTAN BUKIT TAPAK CAGAR ALAM BATUKAHU BALI

http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/artikel%20sutomo.pdf
REVIEW
Menurut saya artikel tentang hubungan tumbuhan obat purnajiwa yang hidup dihutan dataran bali termasuk dalam kategori penelitian autekologi karena  Autekologi itu sendiri memiliki arti yaitu ekologi yang mempelajari suatu spesies organisme atau organisme secara individu yang berinteraksi dengan lingkungannya.


Dari hasil Penelitian bahwa Purnajiwa adalah salah satu tumbuhan obat yang hidup di hutan dataran tinggi Bali. Tumbuhan ini dipercaya oleh masyarakat Bali memiliki khasiat sebagai aprodisiak. Kini keberadaannya di alam semakin terancam karena over-eksploitasi dan kerusakan habitatnya di alam. Cagar Alam Batukahu adalah salah satu habitat Purnajiwa yang masih tersisa. Studi pendahuluan ini bertujuan untuk mendeskripsikan ekologi Purnajiwa di habitat alaminya. Purnajiwa ditemukan pada tempat yang ternaungi diantaranya adalah di bawah pohon Laportea sp., Ficus sp., Syzygium zollingerianum, dan Sauraria sp. dengan intensitas penyinaran antara 55-65%. Tumbuh pada kemiringan tanah antara 20-55 % serta ketebalan seresah 3-7 cm dengan pH tanah berkisar antara 6,7-6,8. Sebanyak 16 jenis tumbuhan bawah hidup bersama purnajiwa diantaranya yang cukup dominan adalah Diplazium proliferum (INP = 54,6) dan Oplismenus compositus L. (INP = 40). Hasil dari studi ini diharapkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi kepentingan aklimatisasi konservasi ex-situ dan penelitian budidaya Purnajiwa demi mencegah jenis ini dari kepunahan. 




 

 usya_bio@yahoo.com